PDA

View Full Version : Menguak Tabir Intelejen Indonesia: Operasi Komodo Timtim



belutut
07-11-2010, 09:03 AM
http://i313.photobucket.com/albums/ll394/belutut/lareosing/20100317/15453_200981827443_601337443_318434.jpg
operasi komodo timtim 1975

Menguak Tabir Intelejen Indonesia: Operasi Komodo Timtim

Semenjak awal kepemimpinan Yoga, wilayah koloni Portugis yang bernama Timor semakin menjadi pusat perhatian. Tiga bulan sesudah ia memimpin Bakin (sekarang BIN), sekelompok kecil perwira angkatan darat yang membangkang berhasil menumbangkan pemerintahan Portugal yang dikenal dengan nama Revolusi Bunga. Para pemimpin kudeta memprioritaskan perundingan terbentuknya suatu persemakmuran yang memungkinkan Portugal secara de facto keluar dari Afrika.

Perubahan kebijakan secara tiba-tiba ini berdampak besar pada Timor Portugis. Sebagai koloni jauh yang lama terlupakan, penduduk asli Timor secara tradisional apatis dengan politik. Tetapi, sejak terjadinya Revolusi Bunga, sentimen rakyat Timor mulai bergolak ketika pejabat Portugis mencabut larangan tentang pembentukan partai politik pribumi.Ada tiga pilihan yang terbentuk bagi rakyat Timor: bergabung dengan persemakmuran yang digagas Portugis, meminta kemerdekaan penuh atau bergabung dengan Indonesia.

Bagi dinas intelijen Indonesia, Bakin hanya sekali menaruh perhatian terhadap koloni ini (kasus Vitaly Yevgenyevich Lui). Tetapi ketika Lisbon mempertimbangkan kembali hubungannya dengan koloninya itu, Timor Portugis tiba-tiba menjadi prioritas Bakin. Terutama ketika pada Juni 1974, pemimpin Apodeti (partai yang mendukung Timor Portugis menjadi bagian dari Indonesia) menyebrang perbatasan menuju Timor Barat dan meminta waktu untuk bertemu dengan para pemimpin puncak intelijen Indonesia.

Kelompok ini dibawa ke Jakarta dan dipertemukan dengan Deputi III Ali Moertopo. Setelah menemui delegasi ia memerintahkan Kol. A. Sugiyanto untuk mengunjungi Dili, dalam sebuah misi pencarian fakta. Pada bulan Juli, Sugiyanto menerima visa kunjungan dari konsulat Portugis di Jakarta. Dalam perjalanan ini ia menyamar sebagai seorang pejabat pemasaran sebuah perusahaan fiktif, dengan penyamaran ini ia rutin setiap bulan mengunjungi Timor Portugis. Tujuan utamanya untuk mendapatkan informasi intelijen tentang kiprah partai politik di Timor dan mengenal para pemimpinnya.

Seperti kata Sugiyanto “Saya akan dijemput di Bandara Dili oleh wakil Apodeti. Sesudah berbicara dengan mereka, kemudian saya menuju hotel dan bertemu dengan pendukung persemakmuran Portugis sambil minum kopi. Malamnya saya akan makan malam dengan mereka yang mendukung kemerdekaan. Begitulah jadwal saya setiap kali berkunjung”.

Sementara Sugiyanto sibuk mengunjungi Dili, pada kuartal ketiga 1974 Moertopo telah membentuk suatu operasi intelijen yang lebih luas untuk Timor dan diberi nama Komodo. Dari informasi intelijen yang dikumpulkan Komodo. Operasi bertujuan untuk membentuk jaringan kecil agen lintas batas dan memberi pelatihan militer kepada ratusan pemuda yang dikirim oleh pemimpin Apodeti. Lampu peringatan menyala di Jakarta pada akhir tahun. Sebagian, ini disebabkan adanya kecenderungan kekiri-kirian yang ditunjukkan orang Timor yang mendukung kemerdekaan. Pada September 1974, pergolakan kedua yang dilancarkan oleh perwira muda mengambil alih pemerintahan di Lisbon. Mereka menginginkan pemisahan dengan cepat dan menyeluruh terhadap semua koloni Portugal. Januari 1975, Angola mendapat kemerdekaan dari Portugal dan diperkirakan Timor Portugis mendapat perlakuan yang sama dari Portugal.

Menanggapi kejadian-kejadian ini para penasehat keamanan Suharto terpecah. Walaupun khawatir Timor Portugis akhirnya akan diserahkan kepada partai politik yang anti Indonesia- dan terutama komunis- tetapi mereka segan melancarkan operasi terbuka. Moertopo terutama tetap menyarankan dilakukannya operasi bawah tanah guna mempengaruhi penduduk Timor dan pejabat Portugis. Pada bulan Januari itu pula, Komodo memperluas operasinya dengan memulai siaran radio dalam berbagai dialek Timor dari Kupang.

Tetapi banyak jenderalnya yang senang bertempur. Sebagai seorang perwira intelijen senior pada Dephankam,Benny Moerdani menyetujui suatu operasi tandingan -bersandi flamboyan- guna memberi militer suatu dukungan intelijen tempur taktis pada saat Indonesia memutuskan campur tangan militer.

Berdasarkan pertimbangan terakhir, operasi komodo semakin ditingkatkan intesitasnya pada bulan Maret. Sebagian dari rencananya dipusatkan untuk menyalurkan dukungan politik rahasia kepada Apodeti. Pada saat yang bersamaan Sugiyanto berkunjung ke Dili dan bermaksud untuk memecah belah partai yang mendukung kemerdekaan. Dalam upaya menggabungkan jalan terpisah namun masih sejalan, Kol. Dading -pimpinan operasi flamboyan- mengambil alih pengawasan program pelatihan Apodeti. Pada akhir April, sekelompok anggota pasukan khusus tiba diperbatasan dan mulai memberi latihan militer.

Ketika, pemandangan politik di Timor menjadi tidak menentu, dan mencapai puncaknya pada 9 Agustus 1975 saat salah satu faksi mengambil alih Dili, mencuri senjata dari gudang persenjataan polisi dan menyerang kedua partai lainnya. Kejadian ini membuat Lisbon mengirimkan Mayor Antonio Soares guna melakukan penilaian situasi dan menyampaikan pengarahan dari Lisbon.

Operasi Kuta
Pada 14 Agustus, Mayor Soares tiba dijakarta untuk transit satu hari sebelum menuju Dili via Kupang. Bakin bergegas mengerahkan Satsus intel melakukan pengintaian. Data di kartu kedatangan menyebutkan ia bermalam di Hotel Borobudur. Setibanya di Hotel Borobudur, ternyata Soares telah beristirahat dikamar. Aparat Indonesia tidak mengetahui dengan jelas tujuan kunjungan ini, tetapi beranggapan bahwa ia membawa dokumen-dokumen sensitif. Agar dapat melihat isi dokumen ini, mereka merencanakan memasukkan obat pembuat mulas ke dalam air minumnya. Pada saat obat bekerja, maka ia akan meninggalkan kamar mencari dokter dan satsus Intel dapat masuk ke kamarnya. Namun walaupun air minum telah dikirim, sang mayor tidak merasa mulas.

Keesokan harinya, Mayor Soares meninggalkan Jakarta menuju Bali. Benny yang sangat penasaran ingin mengetahui isi tas kerja sang mayor, menugaskan Kol. Dading untuk mendapatkan akses. Ia memberi tiga pilihan: mengambil secara paksa, melakukan penodongan pura-pura atau melakukan aksi sulap. Malam itu juga Dading meninggalkan Jakarta membuntuti Soares bersama empat orang anggotanya: seorang mayor dari tim Operasi Flamboyan dan tiga orang dari Satsus Intel, yang terdiri dari ahli fotographi, seorang anggota seksi sensor yang cakap membuka amplop tertutup dan tersegel dan seorang agen lapangan.

Keesokan harinya Soares datang check in bersama dua kopernya yang berat-berat. Anggota satsus Intel yang menyamar menjadi Kepala Cabang maskapai yang ditumpangi Soares, sebut saja namanya Hamzah, dengan sengaja mengatakan bahwa tiket sang Mayor harus disahkan dulu oleh pejabat imigrasi sebelum diizinkan naik pesawat menuju Kupang. Soares menjadi marah tetapi Hamzah tetap bergeming dan bersedia menemani Soares menuju pejabat imigrasi.

Setelah menempuh perjalanan menuju kantor imigrasi, Soares dipersilahkan masuk ke ruang kerja pejabat imigrasi tersebut. Sebelum masuk, Hamzah menyarankan agar kedua koper yang dibawa sang mayor ditinggalkan saja dan akan diawasi oleh dua orang petugas bersenjata, yang disetujui oleh Soares.

Setelah Soares masuk kedalam ruangan pejabat imigrasi, Satsus Intel segara beraksi, Hamzah mengeluarkan kemampuannya membuka koper. Didalamnya terdapat sepasang bundel tebal, yang dibuka oleh ahli sensor dan didalamnya terdapat peta, catatan dan perintah-perintah rahasia. Semuanya difoto oleh anggota Satsus
Intel.

Tanggal 17 Agustus, Dading dan anggota timnya kembali ke Jakarta. Dokumen yang ada di dua bundelan itu mengkonfirmasikan bahwa Portugal berniat untuk melepaskan dan pergi begitu saja. Salah satu surat penting memerintahkan agar sang Gubernur Militer mengungsikan semua pasukan Portugis ke Ilhe de Atauro- Pulau Kambing- enam belas kilometer di utara Portugis.

Dengan telah diketahui sebelumnya keputusan Portugis untuk meninggalkan koloninya, jakarta serta merta kehilangan kesabarannya. Pada 23 Agustus, petugas-petugas Konsulat Indonesia di Dili diungsikan melalui laut. Pada akhir bulan itu, personel pasukan khusus yang ditditugaskan di Flamboyan mendapat izin memulai serangan militer lintas batas. Sementara agen-agen lapangan komodo tetap menjalankan pendekatan tak langsung mereka, pihak-pihak yang agresif di kepemimpinan puncak militer terus-menerus mengirimkan telegram yang tampaknya memastikan bahwa serangan militer hal yang tak terhindari lagi.

Ketika serangan militer terbuka akhirnya dilancarkan pada bulan Desember, peran Bakin di Timor menurun menjadi sesuatu yang tak lebih dari catatan kaki saja.

(Sumber: Ken Conboy: INTEL: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia)

belutut
07-11-2010, 09:05 AM
Lanjutan.....

Kampanye militer terbuka belum dapat dilaksanakan sebagai akibat belum adanya dukungan politik luar negeri. Hal itu menyebabkan Presiden Suharto tidak berani mengambil resiko, sehingga mengatakan “Tunggu dulu. Akibat kurangnya pengertian akan mengganggu arus bantuan dari IGGI.” Kebijaksanaan presiden itu dapat ditafsirkan bahwa ABRI tidak boleh masuk ke Timor Portugis. Tetapi Mayjen Benny Moerdani memberanikan diri mengambil kebijaksanaan lain dengan berkata, “Sebagai pelaksana yang baik kalau dilarang, ABRI harus tetap melakukan kegiatan di Timor Portugis. Kalau nanti yang melarang mengatakan boleh, sedangkan kita belum siap, kita dianggap sebagai pelaksana yang jelek.” Langkah selanjutnya Ketua G-1?intelijen Hankam mengambil prakarsa segera melakukan peningkatan operasi non-phisik berupa operasi penggalangan oleh Kokamko (Komando Kampanye Komodo) menjadi operasi phisik yaitu berupa operasi sandiyudha terbatas (limited combat intelijen). Salah satu dasar pertimbangan yang diambil ialah disebabkan Kokamko tidak memiliki pasukan yang dapat digunakan untuk melakukan operasi phisik. Untuk mendukung pelaksanaan operasi intelijen tempur terbatas, maka Mayjen Benny Moerdani mendesak kepada Mayjen Sarwono, Asisten Keuangan, agar biaya operasi dapat dikeluarkan selambat-lambatnya pada tanggal 27 Agustus 1975.

Dalam suatu rapat di G-1/Intelijen Hankam, Tebet, Mayjen Benny Moerdani memanggil Kolonel Inf Dading Kalbuadi (44 tahun), Komandan Grup-2 Parako/Kopassandha, di Magelang, ikut hadir. Rapat sengaja mengambil tempat di kantor G-1/Intelijen Hankam di Tebet, karena rapat-rapat di Hankam Jl. Medan Merdeka Barat, sudah diketahui oleh Australia. Dalam rapat itu Mayjen Benny Moerdani menunjuk Kolonel Dading Kalbuadi memimpin operasi intelijen tempur dengan nama sandi Operasi Flamboyan. Kolonel Dading adalah seorang mantan Tentara Pelajar dalam perjuangan kemerdekaan 1945 yang kemudian menjadi anggota Korp Baret Merah. Selain itu ia adalah seorang lulusan Sekolah Pasukan Khusus di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Antara Mayjen Benny Moerdani dan Kolonel Dading Kalbuadi keduanya telah bersahabat sejak tahun 1951, ketika mereka mengikuti pendidikan militer di Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) di Bandung, dan bertempur bersama-sama dalam penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera pada tahun 1958. Dengan demikian antara keduanya terdapat rasa saling percaya dan jalinan yang erat antara satu dengan yang lain.

Dalam melancarkan operasi intelijen tempur terbatas ke Timor Timur, pasukan sandiyudha sebagai sukarelawan tidak dapat mengharapkan dukungan resmi dari pemerintah, sehingga kedudukan mereka amat rawan. Disebabkan sukarelawan beroperasi secara rahasia, maka mereka tidak dapat mengandalkan dukungan perbekalan dan amunisi dari garis belakang secara terus menerus. Pasukan sukarelawan yang melaksanakan tugas itu membutuhkan klasifikasi tertentu. Sehubungan dengan tugas berat itu, Mayjen Benny Moerdani berkata, “Ini mungkin one way ticket.” Kolonel Dading menjawab, “Wis Ben, ora opo-opo (Sudahlah Ben, tidak mengapa), saya kerjakan.” Tak lama kemudian Kolonel Dading menambahkan, “tapi tolong, titip keluarga saya, kalau nanti saya tidak kembali.” Mayjen Benny Moerdani menjawab, “Jangan khawatir, aku nanti pegang semuanya kalau kamu sampai nggak ada….”

Sejak bulan September 1975 Detasemen Tempur-2 Grup-1 Parako/Kopassandha di bawah pimpinan Mayor Inf Muhidin berkekuatan dua kompi atau sekitar 250 orang, yaitu Kompi-A di bawah pimpinan Lettu Inf Marpaung dan Kompi-B dibawah pimpinan Lettu Inf Kirbiantoro telah tiba di daerah perbatasan Timor Timur. Penugasan Detasemen-2 di daerah perbatasan dipimpin oleh Mayor Inf Kuntara, sebagai Wadan Grup-1. Pasukan pemukul Operasi Flamboyan terdiri dari tiga tim, yaitu Tim Susi, Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah, Mayor Inf Tarub, dan Mayor Inf Sofyan Effendi.

Mayjen TNI Yogie S.M., Danjen Kopassandha memberi nama sandi Nanggala dalam setiap penugasan operasi intelijen tempur yang dilakukan oleh Kopassandha. Misalnya Kopassandha Grup-4 yang diselundupkan dari kapal selam kelas Whiskey ALRI di dekat Jayapura dalam perjuangan pembebasan Irian Barat pada tahun 1962 dinamakan Nanggala 1, sedangkan Kopassandha Grup-4 yang bertugas di Timor Timur atau Tim Susi diberi nama sandi Nanggala 2. Kekuatan Tim Susi terdiri dari Karsayudha yang membawahi empat Prayudha. Komandan Tim Tuti Nanggala 3 dan Tim Umi Nanggala 4 yang baru dibentuk, masing-masing dijabat oleh Mayor Inf Tarub dan Mayor Inf Sofyan Effendi. Disebabkan kurangnya anggota Kopassandha, maka Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing terdiri dari dua Prayudha Kopassandha dan dua peleton Para Komando (Parako). Baik Detasemen-1 dan Detasemen-2 pada Grup-1 bernama sandi Nanggala 5.

Pada tanggal 27 Agustus 1975 Tim Umi di bawah pimpinan Mayor Inf Sofyan Effendi diberangkatkan ke Atambua dengan pesawat menuju ke Kupang, kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Motaain lewat laut dengan menggunakan kapal Bea & Cukai. Seluruh anggota mengenakan pakaian preman agar tidak menarik perhatian. Kapten Inf Sutiyoso dan anak buahnya menyamar sebagai mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Senjata dan amunisi dimasukkan ke dalam karung yang dibubuhi dengan tulisan yang berbunyi alat pertanian. Tim Susi di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah telah tiba di Kupang pada tanggal 19 April 1975. Mereka juga mengenakan pakaian preman. Kegiatan yang dilakukan ialah menyusup masuk ke Timor Portugis dalam kelompok-kelompok kecil untuk membentuk basis-basis gerilya dan melakukan penyerangan. Tim Susi masuk ke Maliana di Concelho Bobonaro sampai ke Atsabe dan Tim Umi di bawah Mayor Inf Sofyan Effendi masuk ke Concelho Covalima, kemudian menyerang Tilomar dan Kapten Sutiyoso menyerang Suai.

Disebabkan penyusupan hanya masuk ke sasaran di dekat perbatasan, kemudian pimpinan Operasi Flamboyan merencanakan penyusupan yang jauh di daerah pedalaman, yaitu ke suatu pegunungan di selatan Viquque. Tugas itu dipercayakan kepada Kapten Sutiyoso. Suatu pagi ketika perahu bermotor yang ditumpangi bersama anak buahnya sedang menyusur di daerah lepas pantai Viqueque, tiba-tiba muncul helikopter Bolkow Pelita Air Service terbang rendah mendekatinya. Perwira yang duduk di sebelah kanan penerbang memberikan isyarat dengan menunjukkan tiga jari, menempelkan ketiga jari pada pundaknya, kemudian ia menunjuk ke pantai. Kapten Sutiyoso mengerti bahwa isyarat itu berarti seorang perwira yang berpangkat kapten diperintahkan naik ke darat. Perahu bermotor segera merapat ke pantai. Setibanya di darat Kapten Sutiyoso diberitahu bahwa perintah penyusupan ke daerah Viqueque dibatalkan. Dalam berbincang-bincang dengan penulis beberapa waktu setelah pembatalan penyusupan ke Viqueque, Kapten Sutiyoso mengatakan bahwa ia mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viqueque yang terletak jauh dari basis. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya.

Pasukan Celana Jeans
(The Blue Jeans Soldiers)

Para pelaku limited combat intelligence tidak berstatus sebagai anggota militer, tetapi mereka berstatus sebagai sukarelawan. Dengan demikian anggota pasukan sandiyudha yang bertugas kebanyakan hanya mengenakan kaos oblong dan celana blue jeans. Hal itulah yang menyebabkan mereka dijuluki the blue jeans soldiers, sedangkan para pejuang integrasi dari keempat partai dijuluki Partisan seperti panggilan para pejuang Prancis pada masa pendudukan Jerman dalam Perang Dunia II. Tenaga Bantuan Opearasi (TBO) disebut Haiho, yaitu nama pasukan pribumi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam struktur organisasi Bala Tentara dai Nippon ketika menduduki Indonesia, sebenarnya Tenaga Bantuan Operasi disebut To Bang.

Para awak pesawat militer dan awak pesawat sipil yang mendukung operasi flamboyan juga berstatus sebagai sukarelawan. Penerbang militer yang menerbangkan pesawat sipil dengan registrasi PK seperti Pelita Air Service atau Dirgantara

Para awak pesawat militer dan awak pesawat sipil yang mendukung operasi flamboyan juga berstatus sebagai sukarelawan. Penerbang militer yang menerbangkan pesawat sipil dengan registrasi PK seperti Pelita Air Service atau Dirgantara Air Service, biasanya mengenakan baju putih dan celana biru tua seperti lazimnya awak pesawat komersial. Tetapi di samping kursi penerbang dan mekanik terdapat senapan serbu G-3 atau AK-47. Awak pesawat TNI AU mengenakan overall tanpa tanda pangkat maupun atribut kesatuan militer. Bahkan kadang-kadang mereka hanya mengenakan pakaian preman. Dua pesawat pembom serbu B-26 Invader dan dua AC-47 Gunship yang digunakan untuk operasi itu, dihilangkan identitasnya di Lanud Penfui. Lambang segi lima, huruf yang berbunyi TNI AU dan call sign pesawat dihapus dengan jalan menyemprot cat berwarna putih. Pasukan Marinir mengenakan pakaian dinas lapangan secare terbalik agar nama, pangkat, dan atribut militer tidak tampak.
Karsayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The B-Team dalam Organisasi US Special Forces. Jika The B-Team berkekuatan 68 orang, yaitu terdiri dari 20 orang staf markas dan empat A-Team masing-masing sebanyak 12 orang, maka Karsayudha Kopassandha berkekuatan 72 orang, yaitu 20 orang staf markas dan empat Prayudha masing berkekuatan sebanyak 13 orang. Baik Komandan Karsayudha maupun The B-Team dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Mayor.

Prayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The A-Team dalam organisasi US Special Forces. Susunan Prayudha terdiri dari seorang Komandan berpangkat Kapten, seorang Wakil Komandan, seorang Bintara Operasi, dua orang Prajurit PHB, dua orang Prajurit Kesehatan, dua orang Prajurit Intelijen/Territorial, dua orang prajurit Persenjataan, seorang Prajurit Logistik, dan seorang Prajurit Zeni untuk demolisi. Seluruhnya berjumlah 13 orang.


(Sumber: Ken Conboy: INTEL: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia)

belutut
07-11-2010, 09:54 AM
http://i313.photobucket.com/albums/ll394/belutut/lareosing/20100317/15453_200861442443_601337443_318363.jpg

Invasi Pasukan Rahasia ke Timtim.....

Suatu hari, pertengahan Oktober 1975, sebuah satuan RPKAD memasuki Balibo, di ujung barat Timor Leste, waktu itu Timor-Portugis. Portugal baru setahun menyiapkan dekolonisasi jajahan-jajahannya. Di Jakarta, Timor-Portugis menjadi "ancaman komunis di pekarangan Indonesia" yang harus "dipasifikasi" ke dalam negara kesatuan. Menlu
Adam Malik bersedia ... Lihat Selengkapnyamengakui hak kemerdekaan Timor-Portugis, tapi kalangan militer memilih operasi klandestin. Di Canberra, PM Gough Whitlam gagal melobi Lisbon agar Timor tetap di bawah Portugal denganharapan meraih minyak bumi di Celah Timor, lantas berharap Jakarta dapat menyelesaikan gejolak Timor. Para jenderal di Jakarta
menafsirkannya sebagai "lampu hijau" Australia meski dubesnya di Jakarta, Richard Woolcott, tahu benar apa yang sebenarnya terjadi berkat hubungan baiknya dengan Mayjen. Benny Moerdani. Di tengah konspirasi dan ketidakpastian itu, para arsitek "TimTim" -
Ali Moertopo, Yoga Sugama dan Benny Moerdani - cuek saja. Dan Canberra mengutamakan hubungan baik dengan Soeharto. Akibatnya, tidak hanya rakyat Timor terjepit, tapi pers bebas juga. Ketiga arsitek BAKIN dan Opsus itu melanjutkan Operasi Flamboyan dari Atambua, Timor Barat (NTT), untuk menyulut perang saudara di Timor-
Portugis. Komandannya, Kol. RPKAD Dading Kalbuadi, mengaku bermimpi dapat menguasai Timor Portugis dengan metode bujuk dan gertak semacam ulah Inggris menguasai Transjordania. "Seperti (cara) Lawrence of
Arabia itu, lho, mas," tutur Dading (Radio Nederland 1995) yang membawahi tiga satuan RPKAD, Tim Umi, Tim Tuti dan Tim Susi. "Mereka masuk Timor (Timur), menyamar sebagai turis, dengan nama-nama berbau Portugis dan membawa kamera dan peta," ungkap Jose Martins (1992),
mantan pembantu Ali Moertopo. Mendengar kehadiran lima wartawan televisi asing, Komandan Tim Susi,
Mayor Andreas, bertopi turis, berrambut gondrong dan dibantu kelompokApodeti yang pro-Jakarta, menuju Balibo. Beberapa jam sebelumnya,
menurut sadapan intelejens Australia, Benny Moerdani berpesan kepadaDading Kalbuadi "We can't have any witness". Dading menjawab "Don't
worry!" (Jill Jollife, Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five,2001, h. 312)
Apa yang terjadi kemudian, kita tahu. Pada 16 Oktober 1975 kelimawartawan asing itu - Gary Cunningham, Gregory Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters and Malcolm Renie - mati konyol. Mereka bukan korban "di tengah baku tembak" (cross fire) antara tentara Indonesia dan gerilya Fretilin seperti diklaim Jakarta. Jakarta menyiarkan
gambar-gambar mereka setelah jasad mereka diberi baju seragam Fretilin (untuk memberi pembenaran pada pembunuhan kepada wartawantak bersenjata), kemudian dibakar di sebuah toko Cina.

Banyak laporan jurnalistik investigatif telah menunjukkan bahwa merekaditembak dengan telak (cold blood). Empat mati ditembak, satuditusuk. Mantan Konsul Australia James Dunn, mantan Presiden FretilinXavier do Amaral, pemimpin Apodeti Raja Guilherme Gonzalves, anaknya,Thomas, dan mantan Komandan Fretilin Paulino "Mouk Mouruk" Gama
menceritakannya (Radio Nederland, media Australia, 1990-1995).Tapi baru sejak Timor Leste merdeka, saksi mata mulai bicara. JillJollife dalam bukunya Cover Up tsb mengungkap secara rinci latarseputar peristiwa keji itu. Menurut J. Martins, di antara satuan
RPKAD, ada "beberapa yang kejam, termasuk Mayor Andreas dan Sinaga".Jill Jolliffe memastikan, "Mayor Andreas" adalah Kapten RPKAD Yunus
Yosfiah dan sumber lain menyebut satuan Susi menembak dari jarak 10meter.

Tahun 1999 Yunus membantah, dia mengaku tak pernah bertemuwartawan, tapi membenarkan, satuannya pada Oktober 1975 berada diBalibo selama 10 hari. Di kota sekecil Cimahi selama itu tidakmendengar insiden lima warga asing yang menyandang kamera?
Pekan silam, Pengadilan Glebe Coroner di Sidney tidak menambahkandetil baru yang penting. Sejumlah saksi anonim, Glebe Two, Glebe Fourdan Glebe Five kembali menegaskan bahwa Yosfiah sendiri tidak pernah
melepas tembakan. Sebagai komandan dia memberi perintah "Tembak saja,
Tembak saja!"

"Bohong, bohong!" bantah Yosfiah dari Jakarta pekan
lalu. Seorang saksi mata baru mengatakan, tentara Indonesia mengejarkelima wartawan tsb. Rakyat memperingatkan mereka agar lari, tapi
mereka menolak karena yakin wartawan tak akan dilukai.

Mereka hanya
berseru "Australia, Australia!". Seorang saksi memperingatkan anggotaTim Susi, wartawan tak boleh ditembak.

Kelima wartawan na'as itu "berdosa" karena ingin meliput operasimiliter, sebuah hot item, agresi yang melanggar Piagam PBB - jugamelanggar mukadimah konstitusi Indonesia sendiri. Mereka menjadikorban dari sebuah halaman pengantar (prelude) menuju perang besarnan kotor.

Kurang dari dua bulan kemudian, lengkaplah agresi tsb dengan lampuhijau Presiden AS Gerard Ford dan invasi besar 7 Des. 1975.Selebihnyakita tahu: TimTim jadi jajahan, ditelan tragedi kemanusiaan, kitamenjadi penjajah, asas politik luar negeri Non Blok menjadihipokrisi, dan solidaritas Asia-Afrika (Bandung 1955) pudar.Pemerintahan PM Gough Whitlam pada Oktober 1975 tahu benar bahwa
tentara Indonesia tengah menyusup. Mereka tahu ada operasi Flamboyandan kelima wartawannya ada di Balibo, tapi Canberra hingga kiniberkelit. Komisi Parlemen Sherman (1996) hanya meragukan klaimJakarta tentang "baku tembak". Akhirnya, tim polisi PBB Civpol yang
mengusut kasus Balibo kandas karena Jakarta menolak mengirim parasaksi dan tersangkanya ke Dili.

Sisi Indonesia dari Operasi Flamboyan tetap gelap. Banyak nama beken selain Yunus Yosfiah, terlibat operasi, seperti Krisbiantoro, BibitWaluyo dan Soetiyoso. Pers Indonesia diam, adayang menjadi bagian propaganda militer (worse than embedded) dansebagian besar dipasung Orde Baru. Belakangan, ketika wartawan filmmedia Jepang, Agus Muliawan, dan sejumlah wartawan lokal dan asing
tewas di masa bumi hangus Tim-Tim Sept. 1999, pers Jakarta juga takbanyak bersuara. Di Indonesia, kebanyakan wartawan jadi korban dimasa damai. Baru ketika wartawan RCTI Ersa Siregar tewas semasa tugasdi Aceh, Des. 2003, pers ramai, tapi hasil penyelidikan TNI yangdijanjikan Jen. Ryamirzard Ryacudu tak pernah terdengar.

Kasus Balibo 1975 adalah tragedi wartawan perang di tengah PerangDingin. Yunus Yosfiah pernah mengaku "ABRI mungkin menakutkan, tapi
saya seorang demokrat." (Kompas 27 Juni 1999). Tapi 'Balibo' jugakasus pembunuhan wartawan terbesar sejauh ini.(Abuprijadi Santoso).

SUmber (http://www.facebook.com/photo.php?pid=3183632&id=601337443)

MAT-GROBAK
07-12-2010, 11:10 AM
Wuih mantaf...upgrade sejarah...

supenok
07-15-2010, 12:57 AM
mantab mas............lanjutkan.....

lang2buana
07-15-2010, 09:31 AM
kesuwon man kanggo infone kang bermanfaat ikai...kadong ono ditambahi maneng....

Koentji
07-15-2010, 10:53 PM
Tulisan dari Ken Conboy dilangsjut dong mas TS.. apalagi soal Kopasus yg pernah ditulis oleh penulis ini.. ;))

Dj_anchoex
07-16-2010, 08:28 PM
wuiihhhh keren, man isun wes nonton pilem "BALIBO FIVE", iku reng kono critane mulo Indonesia nak menginvasi TIM TIM soale munPortugis wes heng gelem ngoros, lah hang dadi dasare Indonesia khawatir (biso diartikan menuduh) bahwa Fretilin iku berfiliasi ato disebut partai kounis,
lahhh dadine yo langsung terjadi operasi militer ikau, trus Jose Ramos Horta iku hang ngundyang 5 wartawan ikau, reng pilem mulo wartawan Australia iku matine dipateni ambi anggota TNI hang nyamar nganggo klambi biasa, kiro kiro skenario Pilem BALIBO FIVE ikau, bener ambi nyatane tah HOAAAX MAN?